Membuat Cerpen

 Sepi di antara Tumpukan Kata

   Gelap, pemandangan tak asing yang aku lihat beberapa bulan terakhir. Aku bertanya-tanya dalam benakku. Mengapa Tuanku sudah tidak pernah berkunjung ke tempat ini lagi? Apa secara tak sadar aku telah melakukan kesalahan atau yang lebih parah, Tuanku sudah tidak menyukaiku lagi? Dengan raut lesu aku menatap ke arah sekitarku. Pandanganku sedikit kabur karena debu nakal yang menempel di wajahku. Berkali-kali aku menatap ke arah pintu ruanganku berada, berharap Tuanku membukanya sambil menatapku dengan senyum hangatnya seperti biasa. Aku bisa melihat beberapa debu yang sudah menempel dengan erat pada gagang pintu itu, terlihat dingin dan tak tersentuh. Aku bisa merasakan bagaimana rasanya, begitu kesepian dan mencekam.

   Dulu Tuanku sangat sering mengajakku bepergian. Ia selalu membawaku ke tempat yang hangat dan membelaiku dengan lembut. Tidak ada satu hari tanpa terkecuali, Tuanku akan selalu datang kepadaku dengan senyum lembut yang merekah. Aku selalu menyukai senyumnya, sangat hangat dan menenangkan. Tetapi sayangnya sudah lama aku tidak melihat senyuman itu. Aku bahkan sudah sedikit lupa bagaimana rasa dari jari-jarinya yang membelaiku dengan lembut dan penuh perasaan. Aku merindukan masa-masa itu, rasanya aku ingin berlari dan bersandar di lengan kokohnya itu. Tetapi aku tahu, itu sangat mustahil. Untuk bergerak saja aku tidak bisa apalagi untuk berlari ke dalam dekapan Sang Tuan.

   Ditengah kegundahanku, aku tiba tiba mendengar suara langkah menuju tempatku berada. Jantungku berdebar-debar mendengarnya. Apa penantianku selama beberapa bulan ini terbayarkan? Apakah aku bisa merasakan dekapan hangat Tuanku kembali? Dengan kegembiraan yang membuncah, aku mencoba mengintip siapa sosok yang datang berkunjung ke ruanganku. Tetapi anehnya aku tidak bisa melihat apapun? Ada apa ini? Mengapa aku tidak bisa membuka mataku? Dengan sekuat tenaga aku mencobanya, tetapi hasilnya nihil. Aku tetap tidak bisa melihat ataupun. 

   Ditengah usahaku, tiba-tiba aku merasakan ada jari-jari yang merayap ke arahku. Jari ini terasa lebih kecil dan halus, berbanding terbalik dengan milik Tuanku. Walaupun aku sudah sedikit lupa bagaimana rasanya, tetapi aku masih ingat bahwa jari milik Tuanku tidak sekecil ini. Aku merasakan tubuhku terangkat dan wajahku diusap dengan lembut kemudian diriku didekap dengan erat. Tak lama, aku merasakan sebuah cairan jatuh mengenai permukaan wajahku. Apa ini? Mengapa tiba-tiba ada air di wajahku? 

   Aku dapat merasakan nafas terengah-engah dari sosok yang mendekapku saat ini. Aku tidak suka berada dalam dekapannya, euforia di sekitarku rasanya berubah drastis. Terasa memilukan dan menyesakkan relung dada. Di tengah euforia yang aku rasakan, tiba-tiba kantuk menyerang dan telingaku berdengung untuk waktu yang cukup lama. Pendengaranku perlahan-lahan mulai menghilang, suaraku di sekitarku terasa semakin redup. Namun sebelum kesadaranku menghilang, aku bisa mendengar sosok itu mengatakan sesuatu yang membuat dadaku mencelos mendengarnya.

Semoga bersama buku ini kamu bisa tenang di atas sana, Anakku.

   Setelah hari itu pun, aku tidak bisa lagi untuk mendengar ataupun melihat sesuatu. Tetapi itu tak masalah bagiku, karena sekarang aku jauh merasa bahagia. Tempatku sekarang terasa lebih hangat dan menenangkan, bahkan setiap hari rasanya aku seperti sedang didekap oleh sosok Tuanku. Untuk siapapun yang membawaku kemari, aku sangat berterimakasih. 

                   ────୨ SELESAI ৎ────

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PANTUN

TEKS LAPORAN

SYAIR