Narasi
Kaca Pecah dan Abu Menghilang
ㅤㅤHujan badai sore itu membuat keadaan sekitar menggelap. Badai tertunduk lesu. Setiap langkah hanya hening yang menyambut. Ia ingin seperti angin yang selalu dinanti kehadirannya Panas yang dibutuhkan kehadirannya. Serta hujan yang disambut kemunculannya. Badai bertanya-tanya, mengapa kehadirannya selalu membuat makhluk di sekitar menjerit sembari berlari tak tentu arah. Badai bukanlah monster apalagi iblis. Dia adalah Badai, hanya Badai yang ingin sekali memiliki seorang teman.
ㅤㅤDiterpa gemuruh hati, Badai tak lagi utuh. Sosoknya menatap sang cakrawala sembari bergumam lirih.
ㅤㅤ"Untuk Sang Pencipta di atas sana, izinkan Badai-Mu yang malang ini bertanya pada-Mu. Tidakkah Engkau terpikir untuk mengirim satu saja sosok yang dapat menemaniku di sini?" lirihnya sembari menghembus napas lelah, "Mau bersama hujan, angin, maupun panas, tak ada satupun yang datang menyambut. Sehina itukah diriku?" ujarnya sembari menggeram marah. Petir-petir berkilat seakan mengetahui perasaan Sang Badai.
ㅤㅤDengan kemarahan yang menenggelamkan jiwa, Badai berlari mendatangi bumi. Ia menertawakan mahkluk-makhluk yang sedang berlari tak tentu arah itu. Langkahnya terhenti ketika netranya tak sengaja menangkap sosok abu pekat di seberang sana. Dirinya melangkah mendekat, tetapi anehnya sosok itu semakin menjauh disetiap langkah Badai yang mendekat. Badai berhenti melangkah.
ㅤㅤ"Jangan takut padaku. Aku tak akan menyakitimu," ucapnya yang tak ditanggapi sama sekali oleh sosok itu. Sang Abu hanya diam membeku. Ekspresi wajahnya tak dapat Badai tangkap.
ㅤㅤSepanjang Badai berucap, Abu hanya tertunduk lesu seakan sedang menunggu sesuatu. Badai mengacuhkan, selagi Abu tak berlari maupun menjerit karenanya, Badai tak menjadikannya masalah. Tak lama suara dentuman keras terdengar. Kaca-kaca menjerit buas ketika tubuhnya dipaksa memisah. Badai belum sempat tersadar sepenuhnya, ketika tiba-tiba saja Abu menghilang. Runtuh bersama kaca-kaca yang sedari tadi menolak untuk terpisah.
⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹
Komentar
Posting Komentar